Takluk Kepada Pemerinta, bagian 2
Ringkasan Khotbah 9 Agustus 2009
Pdt. Surya Harefa
Takluk Kepada Pemerintah: Bagian 2 (Roma 13:1-7)
Pemerintah berasal dari Allah, artinya otoritas/kuasanya berasal dari Allah. Kita harus takluk kepada pemerintah karena posisi kita berada di bawah pemerintah, dan kita harus mendoakan pemerintah agar sadar bahwa otoritasnya berasal dari Allah dan supaya mereka menjalankan otoritasnya dengan tanggung jawab. Roma 13:1 menyatakan dengan tegas bahwa kita harus takluk kepada pemerintah. Ayat-ayat berikutnya menerangkan beberapa penerapan nyata yang harus dilakukan.
- Tidak melawan pemerintah (Roma 13:2). Karena otoritas pemerintah itu berasal dari Allah, maka melawan pemerintah=melawan Allah sang pemberi otoritas. Kita perlu melihat latar belakang kondisi politik pada saat surat Roma ini ditulis. Rasul Paulus mengingatkan kita supaya kita tidak menjadi seperti kaum Zelot yang melakukan pemberontakan kepada pemerintah dengan menggunakan kekerasan. Diceritakan bahwa kaum Zelot membenci & membunuh orang-orang Romawi, bahkan tidak segan-segan membakar rumah dan membunuh sesamanya orang Yahudi yang membayar upeti ke pemerintah Romawi. Roma 13:2 mengingatkan “Barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah, dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.”
- Berbuat baik (Roma 13:3). Pemerintah tidak akan menghukum warga yang berbuat baik. Karena kita tidak berbuat jahat maka kita tidak perlu takut kepada pemerintah. Sebagai orang Kristen kita perlu memikirkan hal-hal yang baik yang bisa kita lakukan dalam bidang kita masing-masing sehingga kita juga bisa menjadi berkat dan dipuji negara.
- Membayar pajak (Roma 13:6–7). Bila dibandingkan dengan penerapan poin ke-2 mungkin ini lebih mudah karena siapa saja bisa melakukannya. Kita perlu melihat pajak dari sisi lain, pajak sebagai dana untuk pemerintah melaksanakan fungsinya menyediakan fasilitas-fasilitas yang memadai yang dibutuhkan kita sebagai warganya. Mari kita memandang pemerintah secara lebih seimbang dengan membayar pajak sebagai kewajiban kita kepada negara.
Pemerintah sebagai hamba dan pelayan Tuhan.
Menurut Roma 13:4, aparat pemerintah adalah hamba Allah (berasal dari bahasa Yunani diakonos yang berarti diaken) dan pelayan Tuhan (Roma 13:6: bahasa Yunani leitourgos=liturgos/liturgis). Aparat pemerintah sebagai diaken Allah bertugas untuk kebaikan warganya, membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat yang direalisasikan dengan menyusun dan menetapkan UU, juga berhak menghukum warganya yang berbuat jahat. Aparat pemerintah sebagai liturgos Allah bertugas untuk mengurus pembayaran pajak termasuk mengatur sistem penetapan besar pajak yang harus dibayar dan bagaimana membayarnya. Konsep dalam kedua ayat ini memberikan beberapa implikasi penting yaitu:
- Mengingatkan kita untuk tidak jatuh dalam prinsip dualisme yaitu prinsip yang tidak mengakui adanya pemerintah selain Allah atau selain gereja (seperti kaum Zelot).
- Aparat pemerintah harus menyadari dan terus ingat bahwa dirinya sebagai aparat pemerintah adalah hamba dan pelayan Allah yang harus memikirkan bagaimana menjalankan pemerintahan yang sesuai dengan kehendak Allah.
Sebagai umat yang percaya dan takut kepada Allah, maka kita harus takluk kepada pemerintah yang diatas kita dengan tidak melawan pemerintah, berbuat baik sedemikian sehingga dipuji pemerintah dan membayar pajak. Selain itu juga mari kita menghormati aparat pemerintah sebagai hamba dan pelayan Allah. Bagi para aparat pemerintah, mari jalankan pemerintahan dengan hati-hati dan sesuai dengan kehendak Allah. (BC/08/09)
