Sehati Sepikir
Ringkasan Khotbah 28 Juni 2009 Pdt. Surya Harefa
“Sehati sepikir” (Roma 12:15-16)
Dalam Roma 12:16, Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma agar sehati sepikir dalam hidup bersama. Rasul Paulus menegaskan bahwa kita harus mengusahakan untuk dapat memiliki kesatuan pemikiran dan hati, namun yang dimaksud di sini bukan berarti kita harus memiliki pemikiran/pendapat yang sama. Salah satu terjemahan ayat ini di dalam bahasa Inggris: live in harmony with one another. Hal ini dapat diartikan bahwa kita boleh mempunyai pemikiran yang berbeda-beda tapi harus di dalam keharmonisan, sama seperti keharmonisan nada-nada yang berbeda namun dapat terangkai dengan baik dalam musik. Kita boleh memiliki pemikiran yang berbeda-beda namun kita perlu menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga kita memiliki pandangan yang harmonis. Hal ini mungkin cukup sulit dan butuh waktu yang lama namun harus kita perjuangkan, terutama di dalam gereja kita.
Untuk mewujudkan keharmonisan/kesatuan dalam gereja, minimal ada 2 hal yang dapat kita lakukan:
1. Kita bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis (Roma 12:15). Jika kita sudah melaksanakan hal ini, artinya kita sudah dapat melaksanakan Firman Tuhan. Misalnya turut bersukacita ketika ada keluarga yang dianugerahi anak, jemaat yang berulang tahun, mendapat pekerjaan. Hal ini juga merupakan salah satu tujuan kita beribadah, yaitu persekutuan dengan orang-orang percaya. Mungkin akan lebih sulit untuk menemukan orang-orang yang mau berdukacita bersama-sama dengan kita dibanding dengan orang-orang yang mau bersukacita bersama. Maksud ayat 15 ini adalah supaya kita menjadi orang yang dekat dengan sesama orang kristen. Yang sering terjadi adalah kebalikannya, pada saat orang lain bersukacita, kita iri dan pada saat orang lain berdukacita, kita tidak perduli. Mari kita renungkan, berapa banyak orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita, sehingga kita bisa bersukacita dan berdukacita bersama-sama. Mungkin sulit untuk dekat dengan semua orang, tetapi marilah minimal kita memiliki 3-5 orang yang seperti itu. Orang yang sudah dapat turut bersukacita dan berdukacita bersama-sama adalah orang yang telah mempraktekkan kasih yang sejati (Firman Tuhan). Kita perlu belajar untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
Jangan memikirkan perkara-perkara yang tinggi (sombong), tetapi arahkan dirimu pada perkara-perkara yang sederhana (menyesuaikan dengan orang yang status lebih rendah), jangan menganggap dirimu pandai (jangan menganggap diri kita hebat/pintar dari yang sesungguhnya) (Roma 12:16b). Ayat ini berisi 3 nasehat yang hampir sama nuansanya, namun cukup sulit untuk dipraktekkan. Rasul Paulus menyadari bahwa dalam persekutuan ada banyak kelompok (Yahudi dan non-Yahudi, kaya dan miskin, pendidikan, suku), yang juga masih terjadi pada masa ini. Kita punya kecenderungan untuk bersama-sama dengan orang yang sama dengan kita karena kita akan merasa lebih nyaman. Hal ini merupakan hal yang wajar tetapi kita harus mengusahakan agar kita tidak terus seperti itu. Misalnya saat kita makan bento kita akan makan dengan orang-orang yang sejenis dengan kita. Kita harus mau lebih terbuka dan menyesuaikan diri dengan orang yang berbeda dengan kita. Kita harus menghindari kesombongan dan exclusive-isme dalam kelompok kita. Jika kita melaksanakan ini, maka kita dapat mewujudkan kesatuan/keharmonisan dalam jemaat Tuhan. (ML/06/09)
