Bertekun Dalam Kasih Karunia
Ringkasan Khotbah 17 Mei 2009 Pdt. Albert Adam
“Bertekun dalam kasih karunia” (Ibrani 10 :19-39)
Orang Yahudi mempunyai pengetahuan mengenai Perjanjian Lama (PL) namun mereka tidak mengerti bahwa sebenarnya semua cerita dalam PL menunjuk kepada suatu pribadi yaitu Yesus Kristus yang telah membuka jalan baru yang sebelumnya tidak dapat dijalani oleh umat Tuhan secara langsung. Hal ini ditunjukkan dengan terbelahnya tirai Bait Allah ketika Yesus disalib. Karena itu:
1. Kita perlu bertekun dalam persekutuan dengan Bapa kapan saja dan di mana saja. Ini adalah suatu pelatihan rohani dan kebiasaan yang perlu kita tanamkan. Kita dapat menjadi batu loncatan untuk menyampaikan injil kepada mereka yang belum mengenal Tuhan. Setiap orang harus siap untuk diutus Tuhan, termasuk di dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan pelayanan dan misi. Melakukan kehendak Tuhan berdampingan dengan penderitaan sehingga persekutuan dengan Bapa akan memberikan kekuatan untuk menghadapi tantangan dalam tugas dan pelayanan. Dari sudut misiologi, penderitaan itu penting untuk menyampaikan injil kepada masyarakat yang belum mengenal Tuhan, sama seperti Yesus yang mengalami penderitaan salib ketika menyiapkan jalan baru bagi kita. Dia telah mengalami penderitaan sehingga dia dapat mengerti tantangan apa yang kita alami. Orang Israel terbiasa dengan konsep kedasyatan hadirat Allah sehingga mereka sungkan untuk menghampiri hadirat Allah. Melalui kristus, kita mempunyai hak istimewa untuk menghampiri hadirat Tuhan. Karena itu, marilah kita memberanikan diri untuk menghadap hadirat Allah karena kita aman oleh Kristus seperti Musa aman di lekuk gunung. Kegentaran yang kudus selalu menyertai hadirat Tuhan yang akan membawa manusia untuk kembali menyadari statusnya.
2. Kita bertekun dalam iman dan pengharapan. Iman adalah bukti pengharapan dan muncul dari pendengaran akan Firman. Dalam Kristus, dianugrahkan suatu pengetahuan sedemikian rupa, lebih dari observasi ilmiah, bahwa kita memerlukan anugerah Tuhan untuk sampai pada keselamatan. Pengharapan kita menjadi jelas sejak kita menerima Tuhan, bukan berdasarkan pada akal budi saja, tetapi berdasarkan janji dalam Firman Tuhan. Berjalan dengan pengharapan, seperti pelari maraton, kita perlu mengatur langkah kita untuk sampai ke tujuan. Kita harus siap kapan saja Tuhan datang. Selain itu, kita harus dapat menyaring setiap penyampaian dari sesama kita dan menerima semua yang baik dan sesuai Alkitab. Janganlah kita melihat kelemahan dari setiap pribadi, karena bahkan tokoh Alkitab pun punya kelemahan. Untuk itulah, Alkitab membuka anugrah kasih karunia supaya kita hidup di dalamnya.
3. Kita bertekun dalam persekutan dengan umat Tuhan karena kita tidak dapat melakukan pelayanan tanpa hal itu. Kita dapat dibentuk dalam persekutuan dengan umat Tuhan, misalnya saling menasehati dan memperhatikan. Tanpa kebersamaan dan persekutuan, makna gereja Tuhan dan ibadah akan hilang. Di dunia yang diwarnai dengan individualistis ini, marilah kita saling mendorong dalam kasih dan perbuatan baik sehingga kita punya kekuatan untuk melayani.
4. Kita harus bertekun dan berjaga-jaga karena godaan dan tantangan dapat datang setiap saat. Kita dapat belajar mengenai penderitaan dan pengharapan dari gereja mula-mula yang berada dibawah penganiayaan kekaisaran Romawi. Mereka dapat melewati tantangan karena iman. Perjanjian Baru mengatakan bahwa akan ada penghakiman yang dashyat. Karena itu, mari kita mengingat kedashyatan hukuman Allah agar kita selalu bersandar kepada-Nya. (ML/05/09)
